RSS

La Engo Jadi Pahlawan

Ok, ini adalah naskah drama kedua yang ada dalam blog ini.. hmm.. yang kedua ini bukan naskah karangan saya, tapi karangan teman sekelas saya yang namanya Nita Sari. Dia memang suka nulis, ada banyak sekali cerpen maupun naskah drama yang sudah ia tulis, dan ini adalah salah satunya. Naskah drama ini juga yang kami jadikan sebagai persembahan atau lebih tepatnya tugas kelompok kami.. ehehehe, well tidak usah banyak bacot, langsung saja,, this is it :

LAENGO JADI PAHLAWAN

Diadaptasi dari kisah (tula-tula) di Buton yang biasa dijuluki Abu Nawas dari tanah Buton\

Pemeran:
• Laengo : humoris, cerdas, nakal, lincah.
• Ibu Laengo : keibuan, suka memukul anaknya.
• Pak Abdul : seorang bangsawan yang dermawan, baik.
• Rini : anak pak Abdul, cerewet.
• Mala, Mila, Melin : bersaudari, jahat.

Pagi yang cerah di tanah Buton.Masyarakat Wolio beraktifitas seperti biasa.Di sebuah gubuk kecil, tinggallah Laengo bersama ibunya.Mereka hidup dari bertani dan berternak. Laengo harus bekerja giat untuk menopang hidup keluarganya, karena sang ayah telah wafat ketika ia berumur 5 tahun. Kehilangan sang ayah menjadikan Laengo anak yang kuat, cerdas tapi sedikit nakal dan usil.

Pagi itu, seperti biasa Ibu Laengo menapis beras di gode-gode rumahnya.

Ibu Laengo : (menapis beras) “Laengo… Laengo…” (berteriak memanggil anaknya)

Laengo : “Iya, kenapa bu?” (menjawab dengan gaya masih mengantuk)

Ibu Laengo : “Ya ampun. Jam begini baru bangun tidur? Keterlaluan sekali kamu ini.Kamu tidak
pernah dengar nasihat orang-orang tua ya?Kalau bangun kesiangan nanti telat
jodoh nak.”

Laengo : “Ih ibu ini.”

Ibu Laengo : “Kenapa? Kamu mau membantah ibumu ini?” (memukul Laengo dengan keras)

Laengo : (kesakitan) Ya… iya bu. Laengo tidak akan bangun telat lagi. Hentikan bu, aduh
sakit sekali.”

Ibu Laengo : (kembali melanjutkan menapis beras) “Huh, baru dipukul begitu saja sudah
kesakitan.”

Laengo : “Ya, karena pukulan ibu memang keras sekali. (memeriksa tempat air untuk
mencuci muka) Aduh, airnya sudah habis ya bu?”

Ibu Laengo : “Iya, tadi sudah ibu gunakan untuk masak air. Kamu turun ambil lagi di kali
ya.Sekalian di perjalanan, singgah ke rumahnya Pak Abdul.”

Laengo : (duduk di samping ibunya) “Pak Abdul yang mana bu?”

Ibu Laengo : “Itu, pak Abdul keluarga bangsawan yang sering beri kita beras.”

Laengo : “Oh, bapak yang dermawan itu. Ada keperluan apa ibu menyuruhku kesana?”

Ibu Laengo : “Tunggu ya.”(meletakkan beras yang ia tapis menuju ke dapur, lalu keluar sambil
membawa kue waje dalam bungkusan daun pisang)

Laengo : (sementara minum) “Wah, apa itu bu?”

Ibu Laengo : “Waje yang ibu buat. Ibu mau beri kepada Pak Abdul dan keluarganya.”

Laengo : “Hm,, kelihatannya enak nih. Semuanya mau diberi ke Pak Abdul?”

Ibu Laengo : “Iya.Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih kita kepada mereka.”

Laengo : (mengambil tempat air) “Baiklah, Laengo siap mengantarkannya sekarang.”

Ibu Laengo : “Ingat, semuanya diberi ke keluarga Pak Abdul. Awas saja kalau kamu berani
menyentuhnya.”

Laengo : “Terus bagianku mana bu?”

Ibu Laengo : “Ibu akan memberikannya setelah kamu pulang nanti. Sudah, cepat pergi.Hati-hati
ya nak.”

Laengo : “Iya bu. Assalamu alaikum.”

Ibu Laengo : “Walaikum salam.”

Laengo pun berjalan menuju ke rumah pak Abdul. Ternyata ia tak mampu menahan dirinya untu mencicipi kue waje yang diperuntukkan untuk pak Abdul.Ia berhenti di pasar sambil mengistirahatkan kakinya yang sudah berjalan sejauh 2 km.

Laengo : (berdiri dan menaruh tempat airnya) “Aduh, capek juga.”
(tiba-tibaia ditabrak oleh seorang perempuan yang lewat dan perempuan itu
menginjak kaki Laengo) Hei… hati-hati kalau jalan!!”

Melin : “Maaf, kakak saya tidak sengaja. Kamu lihat sendiri kan, ia hanya mempunyai satu
kaki, kaki satunya mengalami kelumpuhan.”

Laengo : “Oh, iya. Tidak masalah.”

Mala : “Melin, ayo pergi dari sini.”

Melin : “Baik kak.” (pergi meninggalkan Laengo)

Laengo : (duduk di bawah pohon sambil membuka bungkusan daun pisang yang berisi waje)
“Hmm,,, wangi… Waje buatan ibu pasti enak.” (mengambil satu waje dan
memakannya, tiba-tiba melirik ke arah penjual obat)

Mila : “Bapak-bapak, ibu-ibu. Percaya tidak percaya.Air ini adalah air ampuh yang bisa
menyembuhkan segala macam penyakit, bisa membuat awet muda, dan panjang
umur.Kalau tidak percaya silahkan coba dan rasakan khasiatnya.

Melin : “Apakah air itu bisa menghilangkan gatal-gatal pada tubuh saya?” (sambil
menggaruk-garuk badannya.”

Mila : “Ya, tentu saja. Silahkan coba.” (menyodorkan air)

Melin : (meminum) “Airnya benar-benar segar ya. Dan wah, luar biasa.Gatal-gatal pada
tubuh saya langsung hilang.Wah hebat.Terima kasih banyak.Sepertinya saya harus
membeli sebanyak-banyaknya.” (berkata setengah teriak)
Mila : “Bapak-bapak, ibu-ibu. Silahkan saksikan sendiri.Ini benar-benar
nyata.Gatal-gatal yang dialami gadis ini hilang dalam waktu sekejap setelah
meminum air berkhasiat ini.Silahkan coba sendiri.”

Melin : “Bagaimana dengan kakak saya? Kaki kanannya sudah lama lumpuh.Apa ini bisa
disembuhkan?”

Laengo : (mendekat ke penjual obat dan berpikir sambil melihat Mala)

Mila : “Iya, tentu saja bisa disembuhkan. Karena ini adalah air ajaib.Silahkan coba.”
(menyodorkan ke Mala)

Laengo : (mencegat dan merebut air tersebut) “Tunggu dulu. Apa benar kakinya lumpuh?”

Melin : “Iya, benar. Kakinya sudah lama lumpuh. Sejak ia kecil. Hm. Bukan. Ia lumpuh
dari bayi.”

Mala : (memukul kepala Melin) “Ya benar, aku sudah lama lumpuh. Sekarang, serahkan air
itu.Aku ingin sembuh.Aku yakin air itu bisa menyembuhkanku. Berikan! (menatap
tajam Laengo)

Mila : (wajah cemas) “Sudah berikan. Dia datang kesini untuk berobat.Ayo berikan.”

Laengo : “Apa kamu benar-benar menginginkan air ini?” (memancing Mala untuk mengambil air)

Mala : “Serahkan. Serahkan padaku sekarang.” (berusaha mengambilnya dan tak sadar ia
melangkahkan kaki kanannya)

Laengo : “Oh… Jadi itu yang dimaksud dengan lumpuh?Apa mataku salah melihat? Kaki yang
kalian bilang lumpuh itu tampak sangat kuat untuk berjalan. Bahkan sangat kuat
untuk menginjak kaki orang lain.”

Mala : (takut) “Apa maumu?”

Laengo : “Tidak, aku hanya ingin menunjukkan ke orang banyak mengenai air ini. Apa air
ini benar-benar sangat berkhasiat, bahkan kamu yang berniat untuk meminumnya
saja sudah sembuh. Atau ini hanya akal-akalan dari kalian bertiga untuk menipu
orang lain?”

Mila : “Hey jangan sembarang bicara. Jadi maksudmu kami ini penipu?”

Laengo : “Bisa dibilang begitu. Ya, itu hanya pendapatku. Yang jelas orang lain juga
sudah melihat kenyataannya. (meminum air itu) Wah airnya memang segar, sesegar
air yang setiap hari ku minum. Hm, terima kasih banyak ya. (meletakkan botol air
itu di meja penjual obat dan meninggalkan mereka bertiga)

Mila : “Huah… Menyebalkan…” (menghamburkan meja dagangannya)

Mala : “Siapa dia? Dasar lelaki sok pintar.Awas saja, jika ketemu akan ku balas semua
ini.”

Melin : “Huah,, keren. Aku juga ingin bertemu dengannya.”

Mala : (memukul kepala Melin) “Dia itu musuh kita sekarang Melin. Jangan pernah kagum
kepada orang yang telah membuat kita malu di depan orang banyak.”

Laengo kembali melanjutkan perjalanan ke rumah pak Abdul. Namun, ketika ia menengok bungkusan kue waje, ternyata tersisa beberapa buah saja.Ia mulai ragu untuk melangkahkan kaki ke halaman rumah pak Abdul.

Laengo : “Aduh. Bagaimana ini?Waje yang tersisa sedikit sekali, tapi kan ini amanat dari
ibu. Apakah aku harus masuk?” (bicara seorang diri)

Rini : (memegang keranjang belanjaan, baru pulang dari pasar) “Hey, apa yang kamu
lakukan disini?”

Laengo : “Maaf, tuannya ada?”

Rini : “Tuan? Apakah aku tampak seperti pembantu?Memangnya anak bangsawan tak bisa
berbelanja kebutuhan dapur di pasar?”

Laengo : “Maaf, aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya. Jadi, bapaknya ada?”

Rini : “Ada. Silahkan masuk.

Laengo : “Huh, dasar angkuh.” (bicara seorang diri sambil meletakkan tempat airnya)

Rini : “Tunggu disini ya. (memanggilPak Abdul)

Laengo : (duduk sendiri)

Pak Abdul : “Eh Laengo.”

Laengo : (berdiri) “Assalamu alaikum pak.”

Pak Abdul : “Walaikum salam. Ayo duduk nak.Ada keperluan apa datang kesini?”

Laengo : “Ini ada titipan dari ibu di rumah. Ya, cuma kue kecil-kecilan.Waje ini ibu saya
yang membuatnya.”

Pak Abdul : “Aduh. Terima kasih banyak ya nak. Bapak sekeluarga memang sangat suka waje.
Sampaikan terima kasih ke ibu juga ya.”

Laengo : “Baik pak. Hm, ternyata bapak lebih tampan dari yang saya fikirkan.Kata
orang-orang bapak ini sangat dermawan, tidak seperti para pejabat yang biasanya
merampas hak rakyat dan menimbun kekayaan.”

Pak Abdul : “Aduh, nak ini pintar sekali memuji. Begini nak, bukannya manusia itu harus
saling tolong-menolong?Yang berlebih bantulah yang kekurangan.Kebetulan bapak
punya harta yang berlebih jadi bapak bagi kepada warga kampung ini.Jadi kita
bisa sama-sama menikmati rezeki yang Allah telah limpahkan.Bukan begitu nak?”

Laengo : “Betul sekali pak. Ternyata selain dermawan, bapak juga arif dan bijaksana.Saya
senang mendapat bantuan dari bapak.Dan saya berjanji, suatu saat akan membalas
semua kebaikan bapak.”

Rini : (datang dengan membawa dua cangkir teh) “Wah apa itu pak?”

Pak Abdul : “Waje buatan ibu Laengo.” (sambil memakan waje)

Rini : “Hm, kelihatannya enak. (duduk di samping ayahnya) Pak, tadi waktu Rini ke pasar
ada orang aneh loh.Tadi, Rini lihat seseorang memakan waje di bawah pohon.Tapi
gayanya mengendap-ngendap.”

Laengo : (terbatuk-batuk saat meminum tehnya)

Pak Abdul : “Kenapa Laengo?”

Laengo : “Anu, tehnya masih sangat panas pak.”

Rini : (menatap sinis Laengo) “Huh payah. Eh pak. Terus terus, ternyata orang itu hebat
sekali loh.”

Pak Abdul : “Hebat bagaimana?”

Rini : “Ternyata dia lumayan cerdas loh pak. Buktinya saja, dia bisa membongkar kedok
pedagang obat yang ternyata penipu.Wah, aksinya menakjubkan sekali.”

Pak Abdul : “Hebat sekali orang itu. Kamu kenal siapa dia?”

Rini : (melirik ke Laengo yang bengong) “Awalnya Rini tidak kenal. Tapi tadi ketemu di
depan rumah. Ya, katanya dia mencari bapak.”

Pak Abdul : (tertawa) “Oh… Bapak mengerti.Jadikamu orang yang diceritakan Rini tadi?”
(melihat ke Laengo)

Laengo : “I.. Iya pak.” (tersenyum kecil)

Pak Abdul : (tertawa terbahak-bahak) “Kamu memang hebat Laengo. Tapi bapak tidak habis
pikir, jadi waje yang kita makan ini sudah kamu lahap sebagian. Aduh… Kamu ini
lucu juga ya.”

Laengo : “Maaf ya pak mengenai hal itu. Saya benar-benar khilaf. Ngomong-ngomong, saya
pamit dulu ya pak. Saya harus segera mengambil air di kali.Assalamu alaikum.

P. Abdul & Rini : “Walaikum salam.”

Laengo kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ke kali. Setiba di kali….

Laengo : (mengambil air) “Huh, segar…”

3M : (datang ke kali)

Melin : “Wah, itu kan orang di pasar tadi kak. Wuah… Keren…”

Mala : (memukul kepala Melin) “Bodoh. Kakak kan sudah bilang, dia itu musuh kita.”

Mila : “Betul. Aku masih sakit hati dengan apa yang telah ia lakukan pada kita. Apa
perlu kita balas dendam?”

Laengo : (menoleh ke arah 3M dan melambaikan tangan)

Mila : “Aduh lihat itu. Dia menyapa atau meledek kita?”

Melin : “Hai tuan pengacau yang keren.” (sambil melambaikan tangan)

Mala : (memukul kepala Melin) “Apa-apaan kamu?”

Melin : “Maaf, sepertinya dia menyapa kita. Jadi, alangkah baiknya jika kita menyapa ia
juga kan?”

Mila : “Aduh Melin. Kamu ini lugu atau bodoh sih?Aku tidak percaya memiliki adik
seperti kamu.”

Melin : “Ih kakak.”

Laengo : (mengangkut air yang telah diambil lalu beranjak pergi)

Melin : “Wah ia pergi. Hey, hati-hati ya.” (berteriak)

Mala : (ancang-ancang memukul kepala Melin)

Melin : (menghindar dan pukulan Mala mengenai Mila)

Mila : “Sakit…”

Mala : “Jadi bagaimana? Apa yang harus kita lakukan pada pria itu untuk membalaskan
dendam kita?”

Mila : “Bagaimana jika kita mempermalukan dia di depan umum?”

Mala : “Tidak akan semudah itu. Nampaknya, ia orang yang cukup cerdas dan pandai
bicara. Bisa-bisa kita yang balik dipermalukan.”

Mila : “Betul juga ya.”

Melin : “Bagaimana kalau kita menculiknya dan membunuhnya. Itu kan lebih seru. Kita bisa
langsung melenyapkannya dan tak akan ada yang mengganggu kita lagi.”

Mila : “Nekat sekali kamu ini. Dia itu laki-laki, mana bisa kita mengalahkannya?”

Melin : “Aku kan hanya memberi pendapat.”

Mala : “Ide bagus.”

Mila : “Apa? Bagus?” (keheranan)

Mala : “Iya ide bagus. Kalian tidak memperhatikan? Tubuh si pengacau itu tak kekar dan
nampaknya ia tak menguasai ilmu bela diri. Bukankah ini mudah bagi kita untuk
mengalahkannya? Walaupun kita perempuan, tapi paling tidak tingkatan ilmu bela
diri kita sudah termasuk bagus bukan?”

Mila : “Betul sekali. Kalau begitu, aku akan segera mengasah pisau setajam mungkin. Dan
dengan pisau itu, aku akan menikam dan membunuhnya. Hahaha… (tertawa terbahak-
bahak)

Melin : “Tapi, aku merasa kasihan dengan dia. Tidakkah ini terlalu sadis?”

Mala : (memukul kepala Melin) “Memangnya siapa yang mengusulkan ide ini? Bodoh!
Pokoknya misi harus dilaksanakan sesegera mungkin.Ayo kita tinggalkan tempat ini
dan segera mempersiapkan semua kelengkapan yang kita butuhkan.”

Sementara itu, Laengo telah sampai di rumahnya…

Laengo : (berteriak) “Ibu… Laengo sudah pulang.”

Ibu Laengo : (keluar dari dalam rumah) “Lama benar ambil airnya.”

Laengo : “Iya, lantaran terlalu lama mengobrol sama Pak Abdul.” (duduk di gode-gode)

Ibu Laengo : “Oh…Waje bagian kamu ibu taruh di dapur.Nanti kamu ambil sendiri ya.”

Laengo : “Baik bu. Ngomong-ngomong ibu mau keluar ya?”

Ibu Laengo : “Kok tahu?”

Laengo : “Soalnya ibu rapi sekali sih. Hati-hati ya bu.”

Ibu Laengo : “Iya, jaga rumah baik-baik ya.”

Laengo : “Siipp.”

Ibu Laengo pun meninggalkan Laengo sendiri di rumah.Karena jenuh, Laengo pun berpikir untuk membuat pagar rumahnya. Setelah mendapat bambu ia mulai merakitnya menjadi pintu pagar.

Laengo : (membuat pintu pagarnya saja, lalu membuat batas pagar dengan menggunakan tali)
“Hehehe,,, Ayo kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.” (sifat nakal dan
usilnya mulai tampak, ia lalu berbaring-baring di gode-gode dengan berpura-pura
menggigil)

Rini : (berdiri di pintu pagar) “Assalamu alaikum.”

Laengo : “Walaikum salam.” (bangun dan duduk di gode-gode dengan badan menggigil)

Rini : “Ibunya ada?”

Laengo : “Ibu tadi keluar.”

Rini : “Ada apa dengan kamu? Apa kamu sakit?”

Laengo : “Menurutmu?”

Rini : “Boleh aku tengok kamu?”

Laengo : “Terserah kamu saja.”

Rini : “Tapi bagaimana masuknya?” (berpikir lalu akhirnya melewati tali yang Laengo
jadikan batas)

Laengo : “Eits… Apa yang kamu lakukan?” (berdiri dan menuju ke Rini)

Rini : “Apa ada yang salah? Aku hanya berusaha untuk masuk.” (kebingungan)

Laengo : “Wah, ini tidak bisa ditolerir. Kamu sudah melanggar norma. Mana bisa masuk ke
halaman orang lain dengan menerobos pagar pemilik rumah?”

Rini : “Jadi maksud kamu, tali ini pagar rumah kamu? Mana saya tahu?”

Laengo : “Mata kamu buta ya? Ini apa?” (menunjuk pintu pagar)

Rini : “Pintu pagar.”

Laengo : “Terus kalau ada pintu pagar maka adaapa?”

Rini : “Pagarnya.”

Laengo : “Loh itu kamu tahu sendiri. Sekedar informasi, karena kamu sudah melanggar
ketentuan tersebut maka kamu harus membayar denda.”

Rini : “Apa-apaan ini?Aku tidak bisa terima.”

Laengo : “Oh tidak bisa. Sekali melanggar harus membayar dendanya.”

Rini : “Pokoknya saya tidak mau. Dan hey, tadi katanya kamu sakit.Terus sekarang
tampaknya kamu sehat-sehat saja.Ini penipuan.Ternyata kamu sama saja dengan
penjual obat di pasar itu.” (tertawa kecil)

Laengo : “Hey jangan samakan aku dengan mereka.”

Ibu Laengo : (datang di depan pintu gerbang) “Laengo… Apa-apaan ini? Ini pagar atau apa? Awas
saja kamu nak.” (melewati tali dan mengejar Laengo lalu memukulnya)

Rini : (menahan tawa ketika melihat Laengo dipukul ibunya)

Laengo : (menjerit kesakitan) “Ibu, hentikan. Ibu tidak malu ya orang lain melihat ibu
memukul anaknya sendiri?”

Ibu Laengo : (berhenti memukul Laengo) “Kamu ini keterlaluan sekali Laengo. Apa tujuan kamu
memasang tali itu? Bagaimana kalau ada orang lain yang datang? (melirik ke Rini)
Eh nak Rini.”

Rini : “Iya bu.”

Laengo : (kembali berbaring di gode-gode sambil menahan rasa sakit)

Ibu Laengo : “Sudah lama datang ya nak?”

Rini : “Belum bu.”

Ibu Laengo : (menatap tajam ke Laengo) “Aduh, pasti nak Rini kena ulah si Laengo ya? Ya, anak
ibu memang begitu, orangnya usil.”

Rini : “Oh tidak apa-apa kok bu.”

Ibu Laengo : “Eh kok malah berdiri di luar. Ayo masuk ke dalam nak.”

Rini : “Tidak usah repot-repot bu. Lagian Rini tidak lama disini.”

Ibu Laengo : “Oh begitu ya.”

Rini : “Ya, jadian tujuan saya kesini ingin menyampaikan pesan bapak kepada ibu. Bapak
minta tolong sama ibu untuk ikut bantu-bantu memasak buat acara pernikahan kakak
saya nanti.”

Ibu Laengo : “Oh itu toh. Sebenarnya biar tidak dipanggil, ibu memang berinisiatif untuk
membantu.” (tertawa kecil)

Rini : “Terima kasih banyak sudah mau membantu ya bu. Kalau begitu saya pamit dulu.”

Ibu Laengo : “Pulang sendiri? Bagaimana kalau diantar sama Laengo?”

Rini : “Apa ini tidak merepotkan? Jangan sampai Laengo keberatan.”

Ibu Laengo : “Oh tidak. Laengo… (berteriak) Antar Rini pulang ya.”

Laengo : (bangun dan berdiri) “Baik bu.”

Di perjalanan…

Laengo : “Hey… Kamu belum membayar denda tadi.”

Rini : “Itu serius ya? Apa perlu aku lapor ke ibu kamu? Biar kamu dihajar habis-habisan
lagi. Hehehe…” (tertawa)

Laengo : “Hahaha… Aku cuma bercanda.”

3M : (datang dari jauh menuju Laengo dan Rini)

Rini : “Bukannya mereka penipu yang menyamar sebagai penjual obat?”

Laengo : “Iya betul.”

3M : (berhenti di depan Laengo)

Laengo : “Ada apa?”

3M : (diam tak menjawab)

Laengo : “Hmm, bagaimana dengan obat kalian. Apakah laku keras?” (tersenyum mengejek)

Mila : “Mungkin obat kami akan sangat laku dan terjual habis jika pengacau tidak datang
dan merusak semua rencana kami.”

Mala : “Iya. Kalau orang itu tak ada, maka kami tak akan menerima malu di depan orang
banyak.”

Laengo : “Hey, jadi kalian menyalahkanku?”

Melin : “Ya tepat sekali tuan pengacau yang keren.” (mengedip-ngedipkan mata)

Mala : (memukul kepala Melin)

Laengo : “Hm, sebenarnya itu tidak murni kesalahanku seorang. Kalian saja yang tidak bisa
menjalankan misi dengan sempurna. Berjalan dan menabrak orang lain dan membuka
kedok kalian sendiri bukankah kesalahan kalian juga?”

Melin : “Itu…” (berpikir)

Laengo : “Huh… Kesimpulannya, kalian adalah penipu yang bodoh.”

Melin : “Kami bodoh?” (menunjuk diri sendiri)

Mala : (memukul kepala Melin)

Rini : (tertawa) “Aduh, pasti pukulannya keras dan menyakitkan.”

Mila : “Hey diam! Asal kalian tahu, nyawa kalian sekarang sedang dalam bahaya.”

Rini : “Maksudnya?”

3M : (mengeluarkan pisau kecil yang tampak sangat tajam)

Laengo : “Apa yang kalian hendak lakukan dengan senjata tajam itu?”

Mala : “Kami berniat untuk menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan kami.”

Rini : “Oh, kalau begitu kita akan menyingkir. Silahkan lewat.” (menarik Laengo dan
membuka jalan untuk 3M)

Mila : “Bukan itu maksud kami. Lebih tepatnya, siapa saja yang menghalangi usaha
kami.Dan kamu Laengo, kamu telah menggagalkan misi kami hari ini.” (mengacungkan
pisau ke Laengo)

Mala : “Oleh karena itu kamu harus membayar penderitaan dan rasa malu yang kami
rasakan.”

Rini : (ketakutan)

Laengo : (menurunkan pisau yang diacungkan Mila) “Hey hey… Sebenarnya apa manfaat yang
kalian dapat setelah membunuhku? Hanya melampiaskan dendam sematakan?Tapi
setelah itu, mungkin ada lebih banyak lagi orang sepertiku yang akan
menggagalkan rencana jahat kalian kembali.”

Melin : (berpikir dan mengangguk) “Hm… Betul juga.”

Mala : (memukul kepala Melin) “Terus?”

Laengo : “Aku punya usul. Ya, kita bisa sama-sama untung.Saya bisa terlepas dari kematian
hari ini dan kalian bisa mendapat uang dan emas yang berlimpah.”

Mila : “Apa maksudmu?”

Laengo : (menarik Rini) “Kalian tahu siapa gadis ini?”

Rini : (ketakutan)

Mila : “Siapa dia?”

Laengo : “Dia anak bangsawan yang kaya raya di desa ini. Jika kalian menculiknya, kalian
bisa meminta tebusan yang banyak dari keluarganya.”

Mala : “Bagaimana kami bisa mempercayaimu?”

Laengo : “Tenang, aku tak akan memberitahu siapa-siapa kalau kalian yang menculiknya. Aku
akan sampaikan ke keluarganya dan aku sendiri yang akan membawa tebusannya.”

Mila : “Bisa kami pegang janjimu?”

Laengo : “Ya tentu saja.” (menyerahkan Rini ke 3M)

Mila : (memegang erat tangan Rini agar tak lepas)

Rini : “Hey apa yang kalian lakukan? Jangan percaya sama dia. Ia hanya pembual. Aku ini
hanya anak petani miskin.Orang tuaku tak punya harta yang melimpah. Untuk makan
saja sudah sangat susah bagi kami. (berteriak-teriak)”

Melin : “Berisik… Dasar cerewet.” (membungkam mulut Rini dengan kain)

Mala : “Baik. Kali ini kami percaya padamu.Kita akan ketemu 3 hari dari sekarang.”

Laengo : “Oke.” (berjabat tangan dengan Mala)

3M : (meninggalkan Laengo sambil membawa Rini)

Laengo : “Dasar bodoh. Mau-mau saja percaya padaku.” (bicara dan tersenyum sendiri)

Laengo pun bertemu dengan Pak Abdul di rumah Laengo dan menceritakan semua yang terjadi.Ia
pun meyakinkan Pak Abdul agar tenang dan percaya pada strategi yang telah disusun Laengo.

Pak Abdul : “Apa kamu yakin nak?”

Laengo : “Ya, tentu saja. Menurutku mereka orang yang sangat gegabah.Aku yakin misi kita
akan sukses.”

Ibu Laengo : (datang membawa dua cangkir teh) “Ya, ibu juga yakin. Tapi, kira-kira bagaimana
keadaan nak Rini sekarang ya?” (duduk di samping Laengo)

Laengo : “Ibu tak usah khawatir. Ia akan aman-aman saja. Mereka pasti tak berani melukai
Rini. Dan lagian menghadapi Rini yang cerewet tak mudah loh bu.”

Pak Abdul : (meminum tehnya) “Kamu betul Laengo. Sekarang bapak menaruh harapan besar pada
kamu.Menaruh harapan untuk menyelamatkan anak bapak dan juga menumpas
orang-orang jahat di desa ini.”

Laengo : “Ya, tapi kita juga mesti berdoa semoga apa yang telah kita susun dapat berjalan
sesuai rencana.”

Ibu Laengo : “Iya, ibu akan berdoa dan turut membantu jika dibutuhkan.”

Laengo : “Terima kasih ya bu.”

Ibu Laengo : “Sama-sama nak.”

Hari yang dinanti pun tiba.Sorenya Laengo telah siap menunggu Mala, Mila, dan Melin di tempat mereka terakhir bertemu. Mala, Mila, dan Melin datang dengan membawa Rini sebagai tawanan dengan tangan Rini yang terikat.

Laengo : (berdiri di ujung jalan menunggu Mala, Mila, dan Melin tiba di hadapannya)

3M & Rini : (berjalan pelan)

Laengo : (berteriak) “Woe… Lama sekali!”

3M & Rini : (tiba di hadapan Laengo)

Mila : “Mana tebusannya?”

Laengo : “Tenang saja, tebusannya sudah siap. Wah, aku sangat tercengang loh saat melihat
tebusannya.Banyak emas yang berkilauan, uang, dan barang-barang berharga
lainnya.Wah, luar biasa!” (tersenyum)

Rini : (melihat ke Laengo dengan tatapan kecewa)

Melin : “Wah,, kita akan menjadi orang yang kaya raya kak.” (senang)

Mala : (memukul kepala Melin) “Jangan senang dulu, kita kan belum melihat tebusannya.”

Laengo : “Aduh… Sepertinya kalian sudah tak sabaran untuk melihatnya.Tapi sebelumnya
lepaskan dulu gadis itu.”

Melin : “Baiklah.” (melepaskan ikatan tangan Rini)

Mila : “Silahkan ambil, kami sangat kelelahan mengurusnya selama 3 hari 3 malam. Siang
hari dia selalu berteriak-teriak dan banyak bicara.Malam harinya, ia hanya diam
dan menangis tak henti-henti.” (mendorong Rini ke Laengo)

Laengo : (tertawa) “Aku kasihan sama kalian bertiga. Pasti berat untuk mengurusnya.”

Rini : (menginjak kaki Laengo) “Apakah kamu tak merasa kasihan padaku?”

Laengo : “Aduh sakit.”

Mala : “Hey, sekarang giliran kamu untuk memberikan tebusannya.”

Laengo : “Baiklah. Tapi sebelumnya aku minta maaf.”

Mila : “Minta maaf buat apa?”

Laengo : “Seperti yang ku katakan, tebusan yang keluarga gadis ini berikan sangat banyak.
Semuanya termuat dalam peti.Dan 3 hari yang lalu aku sudah berjanji untuk
datang seorang diri, namun karena aku tak sanggup mengangkatnya maka aku
letakkan peti itu di dekat kali.”

Melin : “Jauh amat.”

Mila : “Jadi bagaimana?”

Laengo : “Tenang saja, kalian harus percaya padaku. Aku tak akan meninggalkan kalian dan
membiarkan kalian pergi sendiri.”

Melin : “Terus?”

Laengo : “Kami berdua akan ikut kesana.Bukankah ini cukup meyakinkan?”

Mala : “Baiklah. Ayo kita kesana.”

Mereka pun melangkah menuju ke kali.Ternyata ketiga bersaudari tersebut telah termakan ucapan Laengo.Bahkan tanpa mereka sadari, selama perjalanan diam-diam Laengo dan Rini mengambil pisau mereka bertiga. Setelah tiba di kali…

Mila : (melihat ke sekeliling) “Dimana petinya?”

Laengo : “Tenang. Agar semua berjalan lancar, aku menutupi petinya dengan rumput dan
dedaunan.Jadi, tak akan ada orang yang menyentuhnya.” (melangkah menuju peti
bersama dengan Rini)

Melin : “Wah, kamu pintar sekali.” (mengikut di belakang bersama Mala dan Mila)

Mala : (memukul kepala Melin) “Sudah tidak usah ribut. Ingat, semua harus dijalankan
sesuai rencana kita.” (berbicara seolah berbisik)

Mila : “Baik, aku mengerti.”

Laengo : (membersihkan rumput dan dedaunan yang menutupi peti) “Nah, ini dia petinya.
Besarkan?Pasti isinya banyak sekali.”

Mala : (maju dan membuka petinya, terkejut dan senang lalu tertawa) “Hahaha…. Akhirnya
kita kaya dik.”

Mila : “Iya. Dan kalian! Ternyata kalian bodoh sekali ya.Jangan pikir setelah kami
mendapatkan semua ini kami akan melepaskan kalian.”

Mala : “Ya betul. Sebenarnya ini hanya berjaga-jaga jikalau kalian membocorkan semua
ini. Jadi, maaf ya orang-orang pecundang.”

Rini : (terkejut) “Jahat. Kalian benar-benar jahat.Apakah semua tebusan itu tak cukup
bagi kalian?”

Mila : “Iya, kami memang jahat. Bahkan jahat adalah nama tengah kami. Hahaha…” (tertawa
terbahak-bahak)

Laengo : “Oh begitu. Jadi nama kalian Mala Jahat Guna, Mila Jahat Dwi Guna, dan Melin
Jahat Sri Guna.”

Melin : “Wah betul.” (keheranan)

Rini : (tertawa)

Laengo : “Aku hanya mengarang saja. Ternyata betul juga ya. Aku hebat kan?”

Melin : (bertepuk tangan) “Benar-benar hebat.”

Mala : (memukul kepala Melin) “Hentikan semua lelucon ini. Sekarang kalian berdua akan
menemui ajal kalian.” (mencari pisaunya)

Mila : “Hey, pisauku mana?”

Melin : “Pisauku juga tak ada.”

Mala : (ketakutan)

Rini : (menunjukkan pisau milik 3M) “Apa ini yang kalian cari?”

Mala : “Keparat. Berikan!”

Rini : (melemparkan ke kali) “Maaf. Aku tak sengaja.”

3M : (kalang kabut)

Melin : “Kak, apa yang harus kita lakukan?” (mulai cemas)

Mila : “Bagaimana kalau kita atur damai saja? Anggap saja kami tak pernah berniat untuk
membunuh kalian.Dan sekarang, tolong lepaskan kami.” (memohon kepada Laengo)

Laengo : “Sebenarnya sih aku mau-mau saja. Tapi aku sudah terlanjur kecewa dengan ancaman
kalian tadi.Ternyata kalian yang benar-benar bodoh.” (tertawa)

Mala : “Ku mohon. Ampuni kami!”

Laengo : “Maaf, semua sudah terlambat.”

Pak Abdul dan Ibu Laengo datang untuk menangkap Mala, Mila, dan Melin.

Rini : (berteriak) “Bapak!”

Pak Abdul : “Rini, kamu baik-baik saja nak?”

Rini : “Iya pak.”

Ibu Laengo : “Laengo… Jadi apa yang akan kita lakukan kepada ketiga penjahat ini?”

Laengo : “Bawa ke pihak berwajiblah bu.”

Melin : “Kak, kita harus lari.”

Pak Abdul : “Percuma saja. Warga kampung sudah mengepung daerah ini.Kalian akan dihukum atas
penipuan dan kejahatan yang selama ini kalian lakukan kepada warga.”

3M : (panik) “Ampun…..”

Ibu Laengo : “Untung ada Laengo anak saya. Akhirnya warga bisa tenang dari orang-orang jahat
seperti mereka.Laengo memang pahlawan.”

Semua bertepuk tangan dan meriuh-riuhkan nama Laengo. Terkecuali Mala, Mila, dan Melin yang akan mendapatkan balasan atas perbuatan mereka.

THE END

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2012 in Naskah Drama

 

Tag:

Ceramah Pulau Hoga

Karena sudah masuk bulan puasa, jadi di setiap masjid, pasti ada yang ceramah tiap malamnya. nah, ini cerita dalam ceramah yang saya dengar di Masjid dekat rumah.

Konon, di pulau Hoga, yang merupakan pulau yang tergolong indah dan terkenal di dunia akan keindahannya itu, suatu hari ada seorang penyelam rofesional hendak melakukan penyelaman di sekitaran pulau Hoga itu. Si penyelampun mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkannya selam menyelam di bawah laut. Setelah merasa semua siap, si penyelam akhirnya menceburkan diri ke laut.
Begitu masuk pada kedalaman 10 meter, si penyelam takjub akan keindahan bawah laut Hoga yang masih bisa ditembus cahaya matahari. Dia pun memutuskan untuk melihat-lihat sekitaran itu sebelum akhirnya menyelam ke kedalaman 20 meter. Nah, saat tengah melihat-lihat dan menikmati keindahannya, tiba-tiba dia melihat ada seorang pemuda yang juga dipikirnya tengah melakukan penyelaman, namun tidak menggunakan peralatan yang sempurna seperti dia. pemuda itu hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, tabung oksigen, kacamata selam, dll.
Penyelam itupun kaget dan heran campur kagum. “wah, ini orang hebat juga, bisa menyelam sampai ke sini tanpa oksigen”. Pikir si penyelam dalam hati. Selanjutnya tanpa terlalu memikirkan pemuda tadi, penyelam itupun masuk ke kedalaman 20 meter. Si penyelam kembali takjub akan keindahan bawah laut Hoga. Namun, si penyelam lebih takjub lagi melihat pemuda tadi yang masih saja menyelam sampai kedalaman 20 meter.
Tanpa pikir panjang, penyelam itu melanjutkan penyelamannya ke kedalaman 30 meter. cahaya matahari sudah sangat kurang pada kedalamn ini. Untungya si penyelam memakai senter. Penyelam itu sontak terkejut lagi, karena melihat pemuda tadi yang masih saja ada pada kedalamn ini. Si penyelam pun memutuskan untuk menegurnya. Didekatinya pemuda itu, lalu membuka alat suplai oksigen di mulutnya dan berteriak di telinga orang itu, “KAMU HEBAT SEKALI, BISA MENYELAM DI KEDALAMAN 30 METER TANPA ALAT SELAM”…..
Pemuda itu lantas memeluk si penyelam erat-erat, dan membalas berteriak paa penyelam itu, “SAYA SEDANG TENGGELAM, DODOL” …. -_-”

Demikian ceritanya…
well, sebenarnya dalam cerita ini, ada pesan yang disampaikan oleh penceramah itu, tapi saya sudah tidak mendengarkan karena sibuk memikirkan pertanyaan2 ini :
1. Orang itu kenapa bisa tenggelam?
2. Pada kedalaman 10 meter pertama, kenapa pemuda itu santai2 saja, sampai disangka penyelam oleh penyelam profesional itu, padahal dia sedang tenggelam??
3. Pada kedalaman 30 meter, pemuda itu kok masih sadar, bahkan masih bisa memeluk penyelam dan berteriak di telinga penyelam itu????

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 4, 2011 in Cerita

 

Tag:

Penghuni Kelas

Okay, sebagai kelanjutan dari postingan dibawah (yang tidak ada judulnya itu), di postingan kali ini, saya mau memperkerkenalkan orang2 yang menghuni kelas XII RSBI 1
mulai dari Absen teratas :

1. Afiet Dwi Putra (Afiet)
2. Ardianto Arsadi Ali (Tanto)
3. Devyta Triana (Devita)
4. Hera Nurul Iman (Herman)
5. Humaira Sativum Har (Titin)
6. Jafarudin (Jafar)
7. Ld. Muh. Ilham Gafur (Ilham)
8. Ld. Suharmin (Choline)
9. Meiske Yovani Claudia Polii (Ike)
10. Miftahul Jannah (Fitha/G-O)
11. Nita Sari (Nita)
12. Puspa Melati Zaniki (Puspa)
13. Resti Handayani (Resti)
14. Syachrial (Iyal)
15. WD. Aulia Kahar (Aulia)
16. WD. Nurul Amalia (Ama)
17. WD. Rahmawati Al-fiqra (Amha)
18. Wenny Eka Fildayanti (Wenny)
19. Yessi Alfrida Syaputri (Echy)
20. Yusrin Razikun (Yusrin)
21. Fadh Asyari (Afad)

That’s All.. Tenk Q

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 4, 2011 in Cerita dan Aspirasi

 

Tag:

fuaaahhh, capek sekali.
seharian mondar-mandir tidak jelas.

Assalamu’alaikum,, sudah lama gak posting.
okay, ini adalah postinganku yang ke sekian kalinya (seolah2 sudah banyak, padahal bisa dihitung jari).Sebenarnya sudah lama mau posting tentang ini.
tau tidak tentang apa????? eheheeh

saya mau ceritain sekolah, kelas, dan semua yang terjadi di lingkungan sekolahku.
well,, bukan urusan penting atau gimana sih,,

Ok, kita mulai,,
saya bersekolah di sekolah yang terkenal di kota saya, malah mungkin seprovinsi (ciaaahhh,, sok), SMA Negeri 1 Baubau. sekarang saya duduk di bangku kelas XII (3 SMA). kelasku, XII IPA 9 (XII RSBI 1). rahu gak, RSBI itu apa??? RSBI = Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. emm tolong di kutip kata “Rintisan”nya eheheh
katanya sih, kelasnya orang2 pilihan dan pintar. tapiii,,,, gak juga siih. hahahahah

malah mungkin bisa dibilang kelas paling ancur. Ancur yang ada batasnya, laah..
Postingan ini sebenarnya tidak begitu penting, hanya perkenalan tentang sekolah dan kelasku saja.
masih banyak hal dan cerita yang akan saya ceritakan dicatergory ini. tapi nanti dulu.. ehehe
Wassalam…

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 20, 2011 in Cerita dan Aspirasi

 

Orang Hebat

Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan ketenangan.

Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, serta air mata.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 9, 2011 in Bijak

 

Tag:

Oase Hati

Hidup dan kebenaran layaknya sederetan kata yang hanya menyisakan beberapa spasi. Terkadang kita butuh (,) untuk mengistirahatkanperjalanan kita. Seringkali muncul tanda (?) disaat kita kehilangan arah. sesekali kita juga menghadirkantanda (!) ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sadarlah terkadang perjalanan ini terkadang butuh peta dan catatan yang senantiasa memberi petunjuk sebagai evaluasi jalan kita. Yakinlah bahwa (.) bukan akhir dari segalanya, karena masih ada banyak kata yang harus kita untai menjadi sebuah lembar kehidupan kita

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 9, 2011 in Bijak

 

Aku belajar diam dari banyak bicara

Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan

Aku belajar mengalah dari sebuah keegoisan

Aku belajar menangis dari sebuah kebahagiaan

dan aku belajar tegar dari sebuah kehilangan

 

Orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki sesuatu yang terbaik, tetapi hanya berusaha menjadikan setiap apapun yang hadir dalam hidupnya agar menjadi yang terbaik

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 9, 2011 in Bijak